Kerja Mati Matian, Ibadah Asal Asalan

0
824

Sebagai makhluk hidup, manusia membutuhkan sumber kehidupan untuk melanjutkan hidup. Manusia bekerja setiap harinya demi melanjutkan hidup, bekerja keras banting tulang, menjalankan tugas-tugas, lembur dan aktivitas-aktivitas lainnya. Ada yang bekerja di kantor, ada yang menjadi seorang guru, ada yang berdagang, ada yang menjadi pengusaha, atau pekerjaan lainnya. Bekerja bukanlah perbuatan yang dilarang karena kita mendapatkan sesuatu (gaji) dari hasil kerja keras kita dengan cara yang halal tapi terkadang sadar tidak sadar kita bekerja terlalu giat hingga melupakan perkara lainnya yaitu ibadah. Seseorang kerja mati matian, ibadah asal asalan. Ketika seorang karyawan mendapat tugas dari atasannya, dia dengan semangat dan gigih mengerjakannya tapi dia melalaikan perkara yang bahkan jauh lebih penting, ibadah (sholat). Bekerja lembur untuk sebuah proyek perusaahaan, tapi meninggalkan sholat. Lupakah kita untuk apa sebenarnya manusia itu diciptakan? Tak lain kecuali beribadah kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.

kerja mati matian, ibadah asal asalan

Sahabat cahaya Islam, ketika hati dan pikiran seseorang hanya mengingat dunia sungguh lalai dia dalam urusan akhiratnya. Seorang pedagang yang tak rela meninggalkan dagangannya walau hanya untuk beberapa menit saja untuk melaksanakan sholat, sungguh dia termasuk orang yang lalai. Lupakah kita Allah lah yang menghamparkan rejeki-nya di muka bumi, Allah lah yang menjamin rejeki setiap hamba-nya, Allah lah yang dapat menutup pintu rejeki hamba-nya, lantas kenapa kita begitu sombong bahkan tak mau meminta kepada Allah. Banyak dalil yang menyebutkan bahwa rugilah orang-orang tidak beribadah karena kerja yang melalaikan.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman! Janganlah harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah! Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS Al-Munafiquun [63]: 9).

Allah berfirman,

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS An-Nuur [24]: 37-38).

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS Al-Jumu’ah [62]: 9).

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya para pedagang adalah orang yang fajir (pelaku maksiat).” Beliau pun ditanya, “Bukankah Allah telah menghalalkan jual beli?” Beliau berkata, “Ya, tetapi mereka berbicara kemudian berdusta, dan mereka bersumpah dan berdosa.” (HR Ahmad).

Pada dalil di atas , Allah mengkhususkan perniagaan atau bisnis, karena perniagaanlah yang paling banyak melalaikan manusia dari mengerjakan shalat berjama’ah dan dari ketaatan. Sehingga mereka jarang mendatangi masjid untuk mendirikan shalat berjama’ah didalamnya. Setiap hari yang dilakukan seseorang pekerja adalah sama, kerja dari pagi sampai malam, waktu terlewat begitu saja, dia sibuk dengan urusan dunia, lalai karena harta, urusan jual beli, dan hal-hal lainnya. Begitu banyak dalil-dalil yang mengingatkan manusia agar tidak terjerumus pada urusan dunia, sesungguhnya tak ada kehidupan yang kekal di dunia ini, ada kehidupan yang lebih pasti dari dunia ini, yaitu akhirat.

Sebagai orang yang beriman, kita harus menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat kita, adapun jika bekerja maka sudah seharusnya diniatkan untuk beribadah sebagai bekal nanti di akhirat. Sahabat cahaya Islam, semoga kita tidak menjadi orang yang rakus pada harta dunia agar tidak lalai untuk urusan akhirat. Allah yang memberi rejeki, padaNya lah kita meminta.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!