Kebahagiaan Terletak Pada Kemana Fokus Anda Tertuju? (Kisah Raja dan Sebuah Kendi Panas)

0
564

Tersebutlah sebuah nama Raja lalim penguasa peradaban bangsa-bangsa Mesopotamia yang dikenal dengan sebutan Sargon I. Dalam sejarah tertulis bahwa masa kekuasaan raja ini berkuasa sekitar tahun 1900 Sebelum Masehi. Dimana kekaisarannya mulai melakukan ekspansi yang berkobar-kobar keberapa daerah Anatolia.

Masa-masa kekaisaran Sargon I ini dikenal sebagai Periode Amorite dimana kekuasaan dan ekspansi kerajaan mencapai Mesopotamia bagian Selatan, yang kemudian memunculkan beberapa daerah dan perkotaan yang krusial bagi bangsa-bangsa Mesopotamia seperti Eshnunna, Larsa, Isin dan lain sebagainya.

Tentu ekspansi itu banyak memakan banyak korban yang berjatuhan dalam peperangan. Pada masa pemerintahan Sargon I ini terkenal sangat kejam. Agaknya sudah menjadi sebuah kebiasaan dari raja Sargon I untuk mempermalukan penguasa daerah ekspansi mereka didepan banyak orang demi kesenangan mereka.

Salah satu cerita yang pernah tim Cahayaislam baca dari kumpulan buku sejarah peradaban dunia yang berkaitan dengan ekspansi yang dilakukan oleh Raja Sargon I adalah kisah seorang raja dan kendi yang panas. Yang cukup bisa memberikan petuah tentang kebahagiaan hidup yang berkaitan erat dengan kemana fokus diri ini tertuju.

Raja bijaksana yang diperintahkan untuk memanggul kendi panas

Dalam ekspansi kekaisaran Sargon I, ada satu raja didaerah jajahan yang terkenal sangat bijaksana. Ketika kerajaan mereka takhluk ditangan raja Sargon I. Seperti biasa mereka mengarak raja tersebut dihadapan banyak rakyatnya. Meski dalam keadaan seperti itu. Sang raja bijak tetap tampak tegar tanpa terlihat sedikitpun raut wajah gelisah dan ketakutan diwajahnya.

Melihat ekspresi yang janggal dari raja bijak tersebut. Raja Sargon I kemudian geram hingga memerintahkan para pengawalnya untuk menelanjangi raja bijak tersebut agar merasa lebih malu lagi dihadapan para rakyatnya. Namun mengejutkan, ekspresi dari raja bijaksana itu tetaplah tidak berubah. Dia tampak tegar dan tabah dalam menerima perlakuan tersebut.

Merasa perlakuan kejinya tidak membuahkan hasil. Raja Sargon I kemudian menarik dan memukuli raja bijak itu bersama para pengawalnya. Bahkan dalam keadaan tersungkur dan tidak berdaya, raja itu tetap masih tidak bergeming. Dia tetap tabah dan tegar dalam menghadapi cobaan itu. Sang Raja Sargon kembali duduk di kursi kebesarannya dan berkata kepada raja tersebut:

“baiklah! Aku akan membebaskanmu dan rakyatmu bila engkau bisa melakukan hal yang kuperintahkan kepadamu”

Mendengar hal itu tentu saja raja bijak itu sumringah dan mengiyakan perintah raja Sargon I tersebut. Kemudian raja Sargon membagi rakyak kerajaan yang ditakhlukkannya waktu itu menjadi dua kubu. Satu kubu terdiri dari orang-orang dan rakyat yang membenci raja. Dan kubu yang lain terdiri dari orang-orang yang mencintai rajanya.

Raja Sargon I kemudian memerintahkan pengawalnya untuk membawakan kendi besar berisi air mendidih yang baru saja diangkat dari kobaran api. Dia memberikan syarat bahwa raja bijak itu harus memanggul kendi panas tersebut dikepalanya dan berjalan sejauh 500 meter kedepan tanpa menumpahkan air yang ada didalam kendi tersebut. Raja juga memerintahkan setiap kubu untuk meneriakkan kata-kata berdasarkan kelompok mereka. Kubu yang membenci raja meneriakkan umpatan-umpatan dan kubu yang mencintai raja meneriakkan dukungan.

Raja bijak itu melangkan sedikit demi sedikit dengan tangannya yang melepuh hebat bersimbah darah. Dia mulai berjalan hingga 100 meter, kemudian 200 meter, 300 meter dan seterusnya ditengah-tengah hiruk pikuk lontaran kata-kata dari dua kubu rakyatnya. Hingga akhirnya dia berhasil berjalan sampai 500 meter. Dia berhasil melakukannya dan kemudian dia beserta rakyatnyapun dibebaskan.

Apa yang bisa dipetik dari kisah diatas?

Kisah diatas tentu bisa banyak diambil hikmahnya. Yang pertama adalah sikap sabar dan ketegaran hati yang baik dari raja bijak tersebut. Dan yang kedua yang berhubungan dengan tema kita kali ini adalah tentang kebahagiaan yang tergantung pada fokus kita. Raja tersebut terus terfokus pada Keselamatan rakyatnya dan lebih memfokuskan diri untuk mendengar suara-suara dukungan dari kubu rakyatnya yang mencintainya daripada lebih menggubris kubu mereka yang membencinya. Hingga pada akhirnya dia berhasil.

Kebahagiaan sebenarnya tergantung kepada hal itu. Ketika kita memfokuskan hidup kita pada kebaikan dan bisa membiasakan hidup Khusnudzon billah, maka insha Allah hidup kita akan menjadi lebih tenteram dan bahagia. Semoga bermanfaat ya!

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!