Kajian Islam Tentang Larangan MUI Akan BPJS

0
321

Assalamu’alaikum sahabat cahaya islam, berbicara agama kita memang tidak boleh berhenti belajar terutama menimba ilmu agama. Hidup beragama memang harus dilakukan, dengan agama kita akan memperoleh ketenangan hati. Kajian Islam kali ini, kita akan berbicara mengenai hukum BPJS. BPJS merupakan program dari pemerintah yang telah meluncur belum lama ini. Akan tetapi Majelis Ulama Indonesia atau MUI masih mempermasalahkan akan dua program BPJS tersebut. sebenarnya apa yang menjadi permasalahan pada BPJS? Berikut ini Kajian Islam Tentang Larangan MUI Akan BPJS.

Kajian Islam Tentang Larangan MUI Akan BPJS

Alasan MUI Melarang BPJS

Sebenarnya kajian islam akan BPJS yang dipermasalahkan MUI adalah BPJS untuk dua program. Pertama untuk program jaminan kesehatan mandiri, dimana peserta harus membayar premi iuran dengan tiga kategori kelas. Dan kedua adalah jaminan kesehatan non PBI (peserta bantuan iuran), dimana BPJS tersebut diperuntukkan bagi TNI/POLRI/ PNS atau lembaga dan perusahaan. BPJS nantinya akan ditanggung oleh instansi yang bersangkutan dan sebagian ditanggung peserta. Dalam program tersebut MUI menimbang adanya unsur pelanggaran didalamnya. Pelanggaran tersebut adalah gharar, mukhatharah dan riba fadhl. Lebih jelasnya simak terus ya sahabat cahaya islam.

Pelanggaran dalam BPJS menurut MUI

Gharar

Gharar dalam kajian islam memiliki makna ketidak jelasan, dimana menurut MUI ketidak jelasan tersebut terjadi bagi peserta dalam menerima hasil dan bagi penyelenggara dalam menerima keuntungan. Maksudnya peserta yang membayar premi setiap bulannya, namun tidak mengetahui kejelasan jumlah yang akan diterima. Bisa lebih besar, ataupun lebih kecil, disinilah letak ketidak jelasan atau untung-untungan yang dimaksud MUI. Dalam setiap jual beli, gharar memang ada meskipun sangat kecil. Tapi bila melihat BPJS ini, perputaran uang disini sangat besar, dapat dibayangkan ketika sebagian besar WNI jadi peserta BPJS, daya triliyunan yang diperoleh akan jauh selisihnya jika dibandingkan biaya pemeliharaan kesehatan warga.

Mukhatharah

Berdasarkan kajian islam Mukhatharah bermakna untung-untungan dan berunsur maisir atau judi. Dalam perhitungan keuangan yang diperoleh peserta BPJS terdapat 2 kemungkinan, bisa jadi untung dan bisa pula rugi. Sebagai contoh saja, bila seorang peserta BPJS baru sakit, jelas dia akan merasa untung sebab klaim yang didapat nilainya lebih besar daripada premi yang telah dibayarkan. Sedangkan peserta yang selalu membayar setiap bulannya, tidak mengalami sakit. Bukan maksud memberikan pendapat bahwa sakit dengan kartu BPJS ini akan mendapatkan untung, hanya saja tidak adanya kejelasan dan keadilan dari sisi tersebut dan membuat MUI memberikan pertimbangan adanya unsur maisir atau judi didalamnya berdasarkan keberuntungan.

Riba fadhl

Dari segi arti dalam kajian islam, riba fadhl berarti kelebihan yang diterima dan dibayarkan, termasuk denda keterlambatan. Ketika premi yang diterima lebih besar dari premi yang dibayarkan, berarti peserta menerima riba fadhl. Demikian pula ketika terjadi keterlambatan dalam membayar premi,  BPJS akan menetapkan denda dan termasuk pula dalam riba. Peserta yang terlambat membayar akan dikenakan biaya denda 10 ribu, hal ini tentu menjadi permasalahan riba yang tidak boleh dilakukan.

Kesimpulan dari kajian Islam mengenai hukum BPJS ini, tentu anda semakin mengerti mengapa MUI melarang BPJS. Pakar fikih serta ulama yang ada dalam MUI beranggapan bahwa BPJS belum memenuhi kriteria sesuai syariah. Sebenarnya BPJS ini bagus, program dari pemerintah untuk rakyat. Hanya saja terdapat unsur ribawi yang menjadi permasalahan dan haram menurut Islam. Terlepas dari itu semua, Allahu ‘alam.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!