Jangan Menjadi Orang Kufur Setelah Beriman?!

0
554

Memang ada ya sebutan kufur setelah beriman? Jawabannya adalah Ada! – Dikisahkanlah dizaman Ke khalifahan Ali bin Abi Thalib. Sejurus masa setelah diangkatnya beliau menjadi pemimpin orang islam setelah wafatnya Rasulullah SAW. Banyak sekali penduduk tanah Arab yang kemudian melenceng dan tersesat jauh dari ajaran islam. Banyak orang berhenti melaksanakan kewajiban mereka sebagai orang islam, khususnya kala itu adalah kewajiban zakat dan mengeluarkan harta di jalan Allah.

Terjadi perdebatan kecil antara Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab. Ali yang memutuskan untuk memerangi orang-orang tersebut dan Umar yang bersikeras mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang islam yang telah bersyahadat atas nama Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan darah mereka adalah haram untuk ditumpahkan.

“Demi Allah! Mereka telah kufur wahai Umar, mereka mengkhianati ikrar mereka sebagai orang beriman dengan meninggalkan kewajiban mereka, dan sudah menjadi kewajiban kita untuk mengembalikan mereka ke jalan Allah yang lurus” – Tandas Sahabat Ali bin Abi Thalib kepada Umar kali itu. Umar terkesiap, dia menatap mata Ali dengan perasaan penuh keyakinan.

Sejatinya Iman harus terlaksana dalam lisan, hati dan perbuatan

Menurut banyak alim ulama yang telah tim Cahayaislam tanya perihal menjadi orang islam yang benar-benar beriman. Banyak dari mereka menjawab bahwa keimanan yang sesungguhnya haruslah memenuhi 3 aspek, yakni lisan, hati dan perbuatan. Seseorang belum bisa dikatakan beriman seutuhnya bila ketiga aspek tersebut tidak terpenuhi. Dalam salah satu hadits riwayat ibnu Majjah juga disebutkan:

حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ أَبِي سَهْلٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلاَمِ بْنُ صَالِحٍ أَبُو الصَّلْتِ الْهَرَوِيُّ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُوسَى الرِّضَا، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ‏ “‏ الإِيمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ وَقَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالأَرْكَانِ ‏”

Hadits diatas dijelaskan bahwa keimanan haruslah diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan. Meskipun hadits ini dihukumi Maudu’ oleh banyak alim ulama, intisari dari hadits ini cukup baik untuk diambil hikmahnya. Salah satu Syekh masa jaya islam Abbasiyyah bernama Ibnu Taimiyah bahkan menyebutkan dalam satu catatan beliau:

أَنَّ الدِّينَ وَالْإِيمَانَ قَوْلٌ وَعَمَلٌ ، قَوْلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ ، وَعَمَلُ الْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ ، وَأَنَّ الْإِيمَانَ يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ ، وَيَنْقُصُ بِالْمَعْصِيَةِ

Sungguh agama dan iman itu (terdiri) perkataan dan amalan, perkataan lisan dan hati. Amalan hati, lisan dan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan menjalani ketaatan dan berkurang bila melakukan kemaksiyatan.

Jangan meninggalkan kewajiban kita sebagai orang beriman

Dengan adanya penekanan atas perwujudan kongkret dari sikap keimanan diatas. Tentu menjadi hal yang jelas bahwa salah satu tolok ukur kita memiliki label ‘keimanan’ adalah dengan terus melaksanakan kewajiban kita sebagai orang islam. Kita memiliki banyak sekali kewajiban yang harus dilakukan. Dalam sekilas kisah khalifah Ali diawal artikel tersebut juga telah dijelaskan sedikit bahwa bagi Sahabat Ali, orang yang mengaku beriman adalah mereka yang tetap menjalankan kewajiban mereka.

5 pilar islam yang harus tetap kokoh

Kebanyakan dari kewajiban kita sebagai orang islam termaktub dalam satu penjelasan 5 pilar islam yang mendukung kokohnya islam dan keimanan dalam diri kita. Artikel tentang beberapa pilar islam yang perlu sobat cahayaislam ketahui sudah kita ulas pada kesempatan sebelumnya DISINI. Menjaga pilar-pilar islam itu agar tetap kokoh adalah suatu hal yang krusial dalam mempertahankan iman dalam diri kita. Semakin kuat dan kokoh pilar tersebut, maka semakin tegak dan pagan pula keimanan dalam diri. Semoga bermanfaat!

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!