Jangan Menenggelamkan Diri Pada Dunia: Kisah Setetes Madu dan Seekor Semut

0
4926

Jangan menenggelamkan diri pada dunia! itu nasihat kami pada kesempatan kali ini – Kita sebagai orang islam yang beriman dan mendambakan nikmatnya surga Allah haruslah tahu betul bahwa kita hidup di alam dunia ini hanyalah sementara. Banyak orang mengilustrasikan keadaan ini sebagaimana mempir minum. Kehidupan yang sangat singkat dan tidak berarti sama sekali. Seharusnya kita memanfaatkan hidup kita yang singkat di dunia ini untuk berlomba-lomba mencari kebaikan untuk akhirat.

Dalam kesempatan kali ini kami akan mencoba mengisahkan satu kisah yang bagus sebagai ilustrasi nasihat Jangan menenggelamkan diri pada dunia. Kisah ini kami dapatkan dari satu forum akademi wirausaha muslim yang banyak diikuti oleh pengusaha sukses islam yang tetap zuhud dalam kehidupan dunianya. Simak ceritanya disini:

Seekor semut yang tergiur manisnya madu

Disebuah pohon yang besar ada satu sarang lebah yang besar. Tak sengaja, setetes madu dari sarang lebah tersebut menetes jatuh keatas tanah dibawah pohon tersebut dimana didekatnya ada sarang semut. Seekor semut yang kebetulan sedang berada didekat tetesan madu tersebut mencium aroma manis yang menggiurkan dari setetes madu yang jatuh diatas tanah tersebut.

semut tersebut kemudian mendatangi setetes madu yang jatuh tersebut dan mencicipi pinggiran tetes madu tersebut. “Wah, manis sekali” kata semut kecil tersebut dalam hati. Setelah itu semut tersebut hendak pergi untuk melanjutkan pekerjaannya dalam koloni semut. Namun semut tersebut tidak bisa fokus dan berkonsentrasi dalam tugasnya di koloni semut. Agaknya rasa manis madu tadi sudah berhasil memikat dirinya. Berlarilah kemudian si semut kecil meninggalkan tugasnya menuju tempat madu tadi.

Semut kecil tidak puas hanya mencicipi sedikit rasa dari pinggiran madu yang jatuh tersebut. “Pinggiran madu ini saya sudah terasa manis, bagaimana rasa yang ada ditengahnya” pikir sang semut. Semut tersebut kemudian mencoba bagian tengah madu tersebut. Namun rasa manis tersebut memikatnya lebih dalam. Semut itu kemudian berfikir “kenapa aku tidak menceburkan diri saja kedalam madu ini? lalu aku bisa merasakan manisnya madu ini lagi dan lagi!” – tandasnya dalam hati.

Karena sudah terpikat oleh manisnya madu, masuklah semut kecil itu didalam tetesan madu tersebut. Sialnya dia terjebak didalam madu itu. Tubuh kecil mungilnya tidak bisa bergerak dan dia kemudian mati didalamnya.

Apa yang bisa kita petik dari kisah diatas?

Dalam kisah setetes madu dan semut mungil diatas kita bisa menarik benang merah bahwa madu adalah analogi dari dunia ini. Dunia bersifat manis dan menggiurkan. Namun, disisi lain dia juga mematikan. Semut adalah ibarat orang yang mencintai dunia. Semut meninggalkan tugas yang harus dilakukannya demi kenikmatan dunia.

ما الدنيا إلاّ قطرة عسل كبيرة ، فمن اكتفى بارتشاف القليل من عسلها نجا ، ومن غرق في بحر عسلها هلك

“tiada penggambaran dunia melainkan bagai tetesan besar madu, siapa yang mencicipinya sedikit maka selamatlah dia, namun siapa yang menceburkan dirinya kedalam, maka binasalah dia”

Celakalah mereka para pecinta dunia yang terlarut dalam panggung fana dunia. Maka dari itu sobat Cahayaislam, nasihat kami jangan menenggelamkan diri pada dunia karena dunia ini adalah fana dan akan berakhir. Sedangkan akhirat adalah kekal. Maka dari itu marilah kita menjadi lebih dekat dengan Allah dan memiliki sifat zuhud agar kita mendapat keberuntungan. Amiin

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!