Islam Dan Optimisme Dalam Kesulitan

0
592

Roda kehidupan memang berputar dengan arah yang tidak tentu. Tidak setiap hari seseorang berada dalam posisi yang enak dan mendapatkan segala sesuatu dengan serba mudah. Ada kalanya mereka ada dalam posisi bawah dan terkurung dalam kesulitan. Hal semacam ini tentu saja wajar karena kehidupan datang dengan silih berganti. Islam mengatur semua hal terkait kehidupan dengan sangat baik, salah satu yang penting untuk kita pelajari adalah islam dan optimisme dalam kesulitan. Seringkali, ketika manusia dalam kondisi yang serba sulit, optimisme dalam hidup mereka akan cenderung pudar dan hilang. Lantas, bagaimana Islam memandang perkara ini?

Islam Dan Optimisme Dalam Kesulitan

Optimisme adalah teman sehari-hari

Salah satu teladan yang melekat pada diri Nabi Muhammad Shallalahu’alaihi wa sallam adalah sifat optimis yang senantiasa bergelora. Nilai inilah yang beliau tanamkan kepada para sahabat dan umat dalam menjalani kehidupan setiap hari.

Sikap optimisme dalam Islam menjadi hal yang sangat penting seiring dengan banyak hal yang terjadi dalam kehidupan. Kehidupan berputar antara susah dan senang setiap saat tanpa bisa kita prediksi.

Dalam kondisi senang, tentu kita tidak akan kesulitan untuk bersikap optimis dalam menjalani kehidupan karena pada dasarnya kesenangan yang terjadi akan bermuara pada hal-hal yang positive dengan lebih baik dan sikap optimis secara otomatis akan muncul. Namun, bagaimana dengan optimisme ketika sulit? Hal ini tentu saja tidak semudah yang kita bayangkan.

Ketika kita berada dalam kesulitan, apa yang menjadi fokus dari pikiran kita adalah sesuatu yang negative dan kecenderungan untuk berpikir bahwa kita tidak mampu. Inilah salah satu sebab bagaimana optimisme dalam kesulitan menjadi hal yang sangat sulit.

Islam tentang optimisme

Apa yang sebenarnya dimaksud dengan optimisme? Mengenai hal tersebut, Rasulullah bersabda ketika ditanya perihal rasa optimis, bahwa optimisme adalah, “kalimat baik yang sering didengar oleh salah seorang dari kalian.” (HR Ahmad).

Dari hadist tersebut kita dapat sedikit menyimpulkan bahwa optimisme merujuk pada hal-hal yang baik. Jadi, secara umum, rasa optimis yang tinggi akan membawa seseorang pada hal-hal yang baik meskipun sedang kesulitan. Inilah kunci dimana kita bisa meningkatkan optimisme dalam kesulitan.

Sejarah optimisme dalam kisah Nabi

Rasulullah mencontohkan sendiri bagaimana hal terkait optimisme dalam kesulitan. Banyak kisah dalam perjuangan dakwah yang menjadi bukti bahwa Rasulullah senantiasa optimis meskipun beliau dalam kondisi yang sulit dan terjepit. Salah satu contoh nyata terkait hal tersebut adalah ketika masa dakwah di Mekah. Kala Rasullulah berdakwah di Mekah. Beliau mendapatkan penolakan dan ancaman yang bertubi-tubi dari penduduk setempat. Hampir setiap hari beliau mendapatkan cacian yang menyayat. Namun, apakah beliau menyerah? Jawabannya adalah tidak.

Rasulullah tetap bertahan di Mekah dalam dakwahnya hingga mendapatkan wahyu yang menyuruhnya untuk berhijrah.

Saat berhijrah ke Thaif, beliau juga mendapatkan hal yang tidak jauh dari perlakuan penduduk Mekah. Dalam hal ini, Rasulullah mendapatkan penolakan yang sama. Namun, betapapun, Rasullullah tetap mengajarkan hal baik terkait optimisme dalam kesulitan dengan tidak mudah menyerah.

Tetap menjaga optimisme ketika sulit adalah hal utama yang harus dilakukan oleh umat Islam. Sejarah telah membuktikan bahwa umat Islam adalah umat yang kuat dan mampu menjaga idealismenya meskipun dalam beragam ancaman dan keterpurukan. Sikap seperti inilah yang seharusnya dicontoh oleh umat Islam masa kini. Dengan senantiasa menjaga optimisme dalam kesulitan, maka kehidupan tentu akan lebih bermakna dan kita akan senantiasa bersemangat untuk menghadapi apapun yang terjadi dengan sikap positif.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!