Inilah Prinsip Dan Etos Kerja Muslim Seperti Ajaran Rasululloh SAW

0
1521

Berada didunia ini, kita sebagai manusia selain diperintahkan untuk beribadah menyembah Allah SWT, manusia juga mendapatkan fitrah yakni bekerja. Islam merupakan agama yang sangat indah, bahkan hingga etos kerja dalam Islam pun diperhatikan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, etos adalah pandangan hidup yang khas dari suatu golongan sosial, dan dapat disimpulkan bahwa etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau kelompok. Sikap bekerja ini telah dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul kita terdahulu, lalu seperti Inilah Prinsip Dan Etos Kerja Muslim Seperti Ajaran Rasululloh SAW yang harus kita contoh.

Inilah Prinsip Dan Etos Kerja Muslim Seperti Ajaran Rasululloh SAW

Prinsip kerja seorang muslim memang harus dijadikan pegangan dalam bekerja, perlu sahabat Cahaya Islam ketahui bahwa bekerja bukan sekedar fitrah manusia saja juga menjadi ladang pahala bagi orang yang bekerja berlandaskan ibadah. Adapun prinsip dari etos kerja dalam Islam adalah sebagai berikut :

Kerja, Aktivitas dan Amal

Dalam Al Qur’an dijelaskan :

اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“… Bekerjalah hal keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba hambaKu yang berterima kasih.” [1] Dari ayat ini telah jelas tertulis bahwa kita harus bekerja agar mendapatkan rizki dari Allah dan mendapatkannya dari jalan yang benar dan halal. Memang Allah telah mengatur rizki setiap orang, namun bila kita tidak berusaha dan bekerja tetap tidak akan mendapatkannya. Perlu diingat setelah kita mendapatkan rizki dari Allah setelah bekerja, kita jangan lupa bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya.

Penuh Orientasi

Setiap muslim yang bekerja, jangan lantas bermalas malasan saja, kita harus berorientasi atau semangat bekerja agar dapat mencapai sebuah pencapaian tertinggi dalam bekerja. Jika kita sukses dalam bekerja dengan berpegang pada etos kerja dalam Islam, kita mampu membahagiakan dan memenuhi segala kebutuhan keluarga. Tentunya dengan begitu kita dapat mencapai kebaikan dunia dan akhirat nantinya.

Al Qawiyy dan al Amiin

Yang dimaksud Al Qawiyy dalam etos kerja dalam Islam adalah dapat diandalkan, memiliki kekuatan fisik dan mental kuat. Sedangkan al Amiin merujuk pada perbuatan seperti jujur dan amanah. Jadi sebagai pekerja dimanapun kita, harus memiliki karakter yang dapat diandalkan dan menjunjung kejujuran serta amanah.

Kerja keras

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. [2]

Sebagai muslim sejati, kita harus bekerja dengan sikap kerja keras dan pantang menyerah. Dapat kita contoh ibunda Nabi Ismail AS yang bekerja keras mencari air untuk Nabi Ismail dengan berlarian dari bukit safa dan marwa tanpa mengenal lelah dan putus asa. Pada akhirnya Allah SWT membuka pintu rizkinya pada orang yang mau berusaha.

Kerja Cerdas

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا أَجَلُكُمْ فِي أَجَلِ مَنْ خَلَا مِنْ الْأُمَمِ كَمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعَصْرِ وَمَغْرِبِ الشَّمْسِ وَمَثَلُكُمْ وَمَثَلُ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَعْمَلَ عُمَّالًا فَقَالَ مَنْ يَعْمَلُ لِي إِلَى نِصْفِ النَّهَارِ عَلَى قِيرَاطٍ فَعَمِلَتْ الْيَهُودُ فَقَالَ مَنْ يَعْمَلُ لِي مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ إِلَى الْعَصْرِ عَلَى قِيرَاطٍ فَعَمِلَتْ النَّصَارَى ثُمَّ أَنْتُمْ تَعْمَلُونَ مِنْ الْعَصْرِ إِلَى الْمَغْرِبِ بِقِيرَاطَيْنِ قِيرَاطَيْنِ قَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ عَمَلًا وَأَقَلُّ عَطَاءً قَالَ هَلْ ظَلَمْتُكُمْ مِنْ حَقِّكُمْ قَالُوا لَا قَالَ فَذَاكَ فَضْلِي أُوتِيهِ مَنْ شِئْتُ

Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] dari [Yahya] dari [Sufyan] Telah menceritakan kepadaku [Abdullah bin Dinar] ia berkata, Aku mendengar [Ibnu Umar] radliallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan jaman kalian dan jaman umat-umat sebelum kalian, hanyalah bagaikan jarak atara shalat Ashar dan terbenamnya matahari. Sedang perumpamaan kalian dengan ummat Yahudi dan Nashrani, adalah seperti seorang yang memperkerjakan beberapa orang pekerja seraya berkata, ‘Siapa yang berkerja untukku hingga pertengahan hari, maka baginya adalah satu Qirath.’ Maka kaum Yahudi pun beramal. Kemudian sang juragan itu pun berkata lagi, ‘Siapa yang bekerja untukku dan sejak pertengahan hari hingga Ashar, maka baginya satu Qirath.’ Maka orang-orang Nashrani pun bekerja. Lalu kalian bekerja dari sejak Ashar hingga Maghrib tiba dengan ganjaran dua Qirath. Maka mereka pun protes, ‘Kamilah yang paling banyak bekerja, akan tetapi ganjaran kami paling sedikit.’ Sang juragan pun berkata, ‘Apakah aku menzhalimi hak kalian barang sedikit pun? ‘ mereka menjawab, ‘Tidak.’ Ia berkata, ‘Itulah kelebihan-Ku, yang Aku berikan kepada siapa saja yang Aku maui.'” [3]

“Tuntutlah ilmu hingga liang lahat” maksud dari pepatah ini sangat jelas bahwa kita harus belajar dari lahir hingga kita menghadap sang Kuasa nantinya. Hal ini dikarenakan ilmu sangat penting dan berguna dalam bekerja. Berbekal pengetahuan, keterampilan, dan etos kerja dalam Islam, kita dapat memanfaatkan segenap sumber daya yang ada. Seperti etos kerja muslim seperti ajaran Rasul SAW yang berdagang dengan penuh kerja keras serta cerdas, selalu berdagang dengan baik tidak mengenal lelah dan bersikap jujur. Membuat banyak orang lebih memilih membeli barang yang dijual Nabi Muhammad SAW.

Perlu diingat para sahabat Cahaya Islam, kita sebagai umat muslim harus berpegang teguh pada etos kerja dalam Islam. Semua itu telah dicontohkan oleh Rasulullah kita, jadi dalam bekerja kita jangan bermalas malasan. Nabi Muhammad menjadi panutan yang harus dicontoh.

[1] Q.S Saba’ ayat 13

[2] Q.S Qassas : 26

[3] H.R Bukhori nomor 4633 (shahih)

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!