Hadits Arbain Nawawi 13: Mutiara Hikmah Menyayangi Sesama

0
817

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial dimana dia membutuhkan kehadiran orang lain untuk membantunya dalam kehidupan ini. Seharusnya dengan hal tersebut kita bisa mengerti bahwa kalimat ‘kita semua manusia ini saling memiliki’ hingga kemudian kita bisa dengan ikhlas saling tolong menonolong antar sesama manusia pada kebaikan. Namun sayangnya, kenyataan di dunia tidaklah seperti itu.

Semakin hari, zaman semakin modern, manusia mulai kehilangan sikap sosialnya. Manusia menjadi sosok dengan sikap individualisme tinggi dimana mindset yang dimilikinya hanyalah tentang kebaikan yang didapatkan oleh diri sendiri. Kepekaan sosial mulai runtuh sedikit demi sedikit oleh sikap egois. Sebagai orang islam, hal ini berlawanan dengan esensi ajaran Rasulullah agar selalu saling membantu. Saling menyayangi antara saudaranya. Seorang muslim diajarkan oleh Rasulullah untuk solid dengan saudara seimannya dalam rasa cinta kasih. Hal ini dijelaskan dalam satu hadits Arbain Nawawi nomor 13:

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ خَادِمِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: “لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Sabda Rasulullah SAW: Tidak ada darimu yang sungguh-sungguh telah beriman sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

Saling menyayangi sesama adalah salah satu penyempurna keimanan

Dalam hadits diatas dengan jelas dikatakan bahwa mutiara hikmah yang bisa diambil dari hadits Arbain Nawawi nomor 13 itu adalah bahwa sikap saling menyayangi merupakan penyempurna iman seseorang. Seorang yang mengaku mukmin dan beriman kepada Allah dan Rasul harus mau menyayangi sesama. Seseorang yang mau disebut orang islam yang beriman haruslah bersedia menjadi peka pada kehidupan sosial. Mau membantu saudaranya yang membutuhkan bantuan dan memusatkan perhatiannya lebih pada memberi daripada menerima.

Islam sendiri mengajarkan umatnya untuk lebih peka dalam kehidupan sosial. Sebut saja ajaran berpuasa misalnya. Puasa tidak hanya bentuk ibadah yang hanya membuat seseorang menahan lapar dan haus. Namun juga memiliki intisari untuk mengajarkan bahwa kita harus ikut merasakan penderitaan mereka yang merasa kelaparan. Mengajarkan kita untuk lebih sering berbagi. Kami pernah mengulas ini pada artikel kami yang lain (DISINI). Contoh lain adalah kewajiban zakat dan sedekah yang juga erat kaitannya dengan kesadaran sosial.

Esensi persatuan umat islam dengan penyatuan hati dan menjauhkan Hasad

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Hadits Arbain Nawawi nomor 13 di awal juga memiliki mutiara hikmah tentang persatuan umat islam. Seperti dalam hadits riwayat muslim 2586 diatas, seorang mukmin digambarkan sebagaimana satu tubuh. Bila satu bagian merasakan sakit maka sakitlah semuanya. Saling menyayangi disini dipercaya oleh para alim ulama bisa mendekatkan kepada penyatuan hati yang akan berujung kepada persatuan umat islam yang hakiki.

Selain persatuan yang solid. Sikap saling menyayangi pastilah akan menjauhkan sifat dengki atau hasad pada setiap diri orang-orang mukmin. Karena mereka sadar bahwa rasa sayangnya pada saudara seimannya lebih kuat, maka mereka tidak akan membiarkan setitikpun kedengkian atau rasa iri hati menyelubungi jiwa mereka. Semoga kita bisa termasuk hamba Allah yang bisa saling menyayangi sesama. Amiin.

 

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!