Hadits Arbain Ke 1: Niat Apapun Harus Lurus dan Benar

0
1077

Hadits adalah ucapan atau perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad. Hadits diriwayatkan oleh perawi dan dibukukan dalam kitab-kitab. Salah satu yang paling terkenal adalah kitab yang disusun oleh Imam Nawawi yaitu Arbain Nawawi. Kitab ini berisi 42 hadits pilihan. Oleh karena itu, hadits-hadits pilihan yang ada di dalam kitab tersebut dikenal dengan hadits Arbain. Meskipun kata Arbain dalam bahasa Arab artinya 40, namun dalam kitab tersebut ada 42 hadits pilihan. Dalam artikel ini kami akan bawakan kepada sobat Cahayaislam tentang yang menarik dalam hadits pertama hadits arbain.

Isi Hadits Arbain Pertama

Dari sekian banyak hadits hadits Arbain, hadits ke 1 merupakan salah satu yang perlu kita pahami. Hadits ini diriwayatkan oleh dua orang perawi ahli hadits yaitu Abu Abdullah dan Abul Husain Muslim. Hadits ini dapat kita temukan dalam kitab shahih mereka yang bisa dibilang kitab hadits yang paling shahih. Isi dari kandungan hadits ini adalah tentang niat dan ikhlas. Lalu, bagaimana bunyi hadits Arbain ini?

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Setiap Perbuatan Tergantung Niat

Berdasarkan hadits Arbain di atas, kita bisa memahami bahwa segala sesuatu itu tergantung pada niatnya. Misalnya, ketika kita mau beribadah sholat, kita harus niat sholat menyembah Allah. Ketika kita ingin berpuasa, kita harus benar-benar niat untuk berpuasa. Dan lain sebagainya. Niat, tidak harus dilafalkan karena niat itu tempatnya di dalam hati. Jadi, kita boleh-boleh saha melafalkan niat asal hati kita juga ikut niat, memahami apa yang kita niatkan, dan meluruskan niat. Inilah inti dari isi kandungan hadits Arbain shahih ini.

Penyimpangan Niat

Meskipun sudah dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadits Arbain di atas bahwa segala perbuatan itu tergantung niat, namun banyak kita jumpai orang-orang melakukan perbuatan dengan niat yang sudah menyimpang. Misalnya, karena salah satu keutamaan sholat dhuha adalah agar rezeki menjadi lancar, jadi banyak orang sholat dhuha dengan niat untuk urusan dunia yaitu supaya rezeki lancar, buka mencari pahala dari Allah.

Begitu juga dengan infaq, shodaqoh, pengamalan ayat seribu dinar, dan lain sebagainya. Masih banyak lagi contoh penyimpangan niat yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita termasuk? Mudah-mudahan tidak. Jadi, kita harus selalu meluruskan niat sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah.

Pelajaran yang Bisa Diambil?

Dari hadits Arbain yang pertama ini, pelajaran apa yang bisa kita ambil? Kita seharusnya terdorong agar selalu ikhlas dalam berbuat. Jika kita memiliki niat yang benar, maka kita akan ikhlas melakukannya. Namun, jika niat kita sudah tidak lurus, maka pasti kita akan kecewa jika kita tidak mendapatkan hasilnya.

Jangan sampai amal ibadah akhirat diniatkan untuk keuntungan dunia. Selain itu, setiap perbuatan yang baik serta bermanfaat yang dilakukan dengan niat ikhlas mencari ridho Allah, perbuatan itu merupakan ibadah. Jadi, mari perbanyak kebaikan dengan niat hanya mencari ridho Allah semata, tanpa mengharap imbalan dunia.

Orang yang berniat belum tentu bisa melakukannya, namun orang yang melakukna sesuatu tanpa niat yang benar akan sia-sia. Lalu, bagaimana jika ada seseorang yang berniat untuk melakukan kebaikan namun karena suatu halangan, seperti sakit atau meninggal, maka orang tersebut tidak bisa melakukan apa yang sudah diniatkan? Ketika kita berniat baik, malaikat telah mencatat niat baik kita jika memang niat kita ikhlas. Jadi, berdasarkan hadits Arbain di atas, kita harus meperbaiki diri dalam segala perbuatan, dimulai dari niat.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!