Definisi Malu Kepada Allah yang Benar Menurut Rasulullah?

0
678

Malu adalah sebagian dari iman. Memiliki sifat malu adalah hal yang baik mengingat sifat semacam itu memang dekat dan terkait dengan keimanan seseorang. Namun pertanyaannya adalah malu yang dimaksud Rasulullah sebagai malu yang bisa dikategorisasikan sebagai keimanan itu seperti apa sih?

Definisi malu atau Al Haya’ yang dimaksud oleh Rasulullah sebagai sebagian dari iman tersebut termaktub dalam satu hadits Hasan riwayat Tirmidzi 2458 yang dengan gamblang menjelaskan bagaimana perilaku seseorang yang malunya adalah sebuah bentuk keimanan.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ، عَنْ أَبَانَ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنِ الصَّبَّاحِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ مُرَّةَ الْهَمْدَانِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا لَنَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ‏.‏ قَالَ ‏”‏ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَتَحْفَظَ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَتَتَذَكَّرَ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ أَبَانَ بْنِ إِسْحَاقَ عَنِ الصَّبَّاحِ بْنِ مُحَمَّدٍ

Rasulullah SAW bersabda: milikilah rasa malu kepada Allah dengan sungguh! – Kami (sahabat) berkata: wahai Rasulullah kita semua telah memiliki rasa malu dan segala puji syukur adalah milik Allah. Rasulullah kemudian menjawab kepada mereka para sahabatnya:

Bukan itu, sifat malu (yang kumaksud) adalah memiliki malu pada Allah dengan melindungi kepala beserta tubuh dan apa yang ada di dalamnya. Dengan mengingat kematian dan hari pembalasan. Serta barang siapa yang menginginkan kehidupan mulia di akhirat, maka dia harus meninggalkan keindahan dunia. Maka dari itu, siapapun yang melakukan hal itu, sudah memenuhi kriteria malu kepada Allah dengan sungguh.

Malu kepada Allah dengan menjaga pikiran dan anggota tubuh dari kontaminasi maksiyat

Dalam hadits diatas dengan gamblang dijelaskan oleh Rasulullah SAW bahwasanya rasa malu yang muncul dari seorang mukmin kepada Allah memiliki barometer pada seberapa baik dia menjaga kepada dan tubuh serta isinya. Maksudnya disini adalah dengan menjaga pikiran tetap jernih, penuh ketaqwaan, dan prasangka baik kepada Allah dan menjaga anggota-anggota tubuh kita dari kontaminasi hal-hal yang maksiyat atau yang melanggar ketentuan Allah.

Allah maha melihat dan maha mendengar, bukankah disebut orang yang tidak tahu malu bila dia berpikiran buruk kepada Allah dan tetap melakukan perbuatan dosa. Padahal dia mengetahui dan paham betul bahwa Allah mengawasi segala hal yang dia lakukan?

Menjadi hamba yang zuhud adalah bentuk benarnya rasa malu kepada Allah

Dalam hadits Tirmidzi diatas dijelaskan pula bahwa menjadi malu kepada Allah termasuk dalam perwujudan dalam membiasakan hidup zuhud. Zuhud sendiri adalah gaya hidup seorang mukmin yang lebih condong kepada kehidupan di akhirat nanti. Mereka yang membiasakan kehidupan zuhud biasanya tidak akan mudah menyombongkan kekayaannya atau berperilaku menghambur-hamburkan uang atau tidak mujhidul muzhid. Orang yang zuhud lebih suka menggunakan harta bendanya untuk sabilillah agar hidupnya mulya kelak di akhirat sana.

Bukankah disebut orang yang tak tahu malu bila dia pamer kepada banyak orang, sedangkan dia mengetahui bahwa Allah-lah yang maha kaya yang menitipi-nya harta tersebut kepadanya? Semoga kita termasuk orang-orang pemilik sifat Al Haya’ yang dimaksudkan Rasulullah dalam hadits tersebut diatas.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!