Ciri Teman Sejati Menurut Pandangan Islam

0
1815

Memiliki banyak teman adalah salah satu anugerah dalam hubungan pertemanan. Memang, dengan memiliki banyak teman, maka hidup kita akan menjadi lebih indah. Teman akan menjadi seseorang yang selalu ada untuk membantu kita saat susah maupun senang. Namun, tentu, kita tetap harus selektif dalam memilih teman karena teman sedikit banyak akan berpengaruh pada pola pergaulan dan kelakuan kita. Dalam hal ini, Islam mengatur tentang bagaimana sebaiknya kita memilih teman dalam bergaul. Ada beberapa ciri teman sejati menurut pandangan Islam yang sebaiknya menjadi dasar dan pedoman untuk memilih teman yang baik. Berikut kita akan mengulas kajian islam mengenai bahasan ini dengan tepat.

Ciri Teman Sejati Menurut Pandangan Islam

Orang yang beriman

Kajian islam yang pertama yaitu salah satu ciri teman sejati menurut Islam yang sangat penting untuk diperhatikan ketika kita hendak memilih teman yang baru adalah dia merupakan orang yang beriman. Beriman adalah salah satu dasar dan kriteria utama yang harus dipegang. Dalam hal ini, kita bisa belajar dari sabda Nabi SAW,

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ حَيْوَةَ بْنِ شُرَيْحٍ حَدَّثَنِي سَالِمُ بْنُ غَيْلَانَ أَنَّ الْوَلِيدَ بْنَ قَيْسٍ التُّجِيبِيَّ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ سَالِمٌ أَوْ عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Telah menceritakan kepada kami [Suwaid bin Nashr] telah mengkhabarkan kepada kami [Ibnu Al Mubarak] dari [Haiwah bin Syuraih] telah menceritakan kepadaku [Salim bin Ghailan] bahwa [Al Waid bin Qais At Tijiyi] telah memberitakan kepadanya bahwa ia mendengar [Abu Sa’id Al Khudri], berkata Salim atau dari [Abu Al Haitsman] dari [Abu Sa’id] ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Janganlah berteman kecuali dengan orang mu`min dan jangan ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” Berkata Abu Isa: Hadits ini hanya kami ketahui dari sanad ini. [1]

Sebagaimana sudah disinggung di awal bahwa teman adalah elemen penting dalam pergaulan. Ia akan senantiasa mempengaruhi pola pergaulan kita. Dengan berteman bersama orang yang beriman diharapkan langkah kita akan senantiasa terhindar dari hal-hal yang merugikan diri sendiri. Namun, tentu, bukan berarti kita tidak boleh berteman dengan seseorang yang berbeda agama, hanya ada batasan tertentu yang harus diutamakan.

Teman di jalan Allah SWT

Selain itu, ciri teman sejati menurut perspektif Islam adalah dia yang merupakan teman di jalan Allah SWT. Islam memandang hubungan pertemanan tidak hanya dalam urusan duniawi saja yang kebanyakan digunakan untuk mendapatkan keuntungan perihal dunia, materi, atau lainnya. Namun, hubungan pertemanan dalam Islam adalah lebih dari hal tersebut, yaitu merupakan jalan untuk menuju kebahagiaan di akhirat.

Allah berfirman,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” [2]

Dari firman Allah SWT tersebut, berkesimpulan bahwa teman yang bertakwalah yang akan membantu kita untuk bisa selamat di akhirat kelak. Teman yang senantiasa di jalan Allah SWT akan senantiasa pula mengingatkan kita perihal sesuatu yang benar dan salah. Oleh karena itu, betapa indahnya jika kita memiliki banyak teman yang selalu menyeru pada kebaikan!

Cinta karena Allah SWT

Hubungan pertemanan harus dilandasi dengan kecintaan pada Allah SWT. Ini adalah salah satu ciri teman sejati yang sangat penting untuk kita perhatikan. Cinta yang dimaksud di sini tentu bukanlah cinta antar lawan jenis yang bermuara pada pacaran dan lain sebagainya tetap merupakan cinta tulus untuk selalu mengingat Allah SWT setiap waktu.

حَدَّثَنَا هَاشِمٌ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْحَمِيدِ حَدَّثَنِي شَهْرٌ حَدَّثَنِي أَبُو ظَبْيَةَ قَالَ إِنَّ شُرَحْبِيلَ بْنَ السِّمْطِ دَعَا عَمْرَو بْنَ عَبَسَةَ السُّلَمِيَّ فَقَالَ يَا ابْنَ عَبَسَةَ هَلْ أَنْتَ مُحَدِّثِي حَدِيثًا سَمِعْتَهُ أَنْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ فِيهِ تَزَيُّدٌ وَلَا كَذِبٌ وَلَا تُحَدِّثْنِيهِ عَنْ آخَرَ سَمِعَهُ مِنْهُ غَيْرِكَ قَالَ نَعَمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ قَدْ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَحَابُّونَ مِنْ أَجْلِي وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَصَافُّونَ مِنْ أَجْلِي وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَزَاوَرُونَ مِنْ أَجْلِي وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَبَاذَلُونَ مِنْ أَجْلِي وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَنَاصَرُونَ مِنْ أَجْلِي

Telah menceritakan kepada kami [Hasyim] telah menceritakan kepadaku [Abdul Hamid] telah menceritakan kepadaku [Syahr] telah menceritakan kepadaku [Abu Dzabyah] ia berkata; Bahwasanya Syurahbil bin As Simth memanggil Amru bin Abasah As Sulami dan bertanya, “Wahai Ibnu Abasah, apakah Anda mau menceritakan kepadaku suatu hadits yang telah Anda dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa ada tambahan ataupun kedustaan? Dan janganlah Anda ceritakan kepadaku suatu hadits dari sahabat lain yang ia mendengarnya dari beliau selain Anda. [Amru bin Abasah] berkata; Baiklah, aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah Ta’ala telah berfirman: ‘Sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling merapatkan barisan karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling berkorban (untuk membantu yang lain) karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling menolong karena Aku.” [3]

Dari hadis tersebut kita bisa membaca bahwa memiliki teman yang senantiasa mencintai Allah SWT adalah suatu anugerah yang sangat besar. Teman seperti ini akan senantiasa mengajak kita pada kebaikan dan mengingatkan jika kita berbuat salah. Selain itu, Allah SWT juga menegaskan bahwa dengan memiliki teman yang senantiasa mencintai-Nya, maka cinta-Nya juga akan turun kepadanya. Ini adalah manfaat lain yang akan diperoleh oleh kita yang senantiasa selektif dalam memilih teman yang tepat.

Ceria saat bertemu

Hal lain yang menjadi ciri teman sejati adalah ceria saat bertemu. Tentu, kita pasti akan merasa senang ketika berjumpa dengan teman yang ceria saat kita bertemu. Keceriaan teman tersebut tentu akan memperbaiki mood kita yang kurang baik, dan sebagainya.

Inilah salah satu ciri teman sejati yang harus senantiasa diperhatikan. Jangan memilih teman yang pemarah dan membuang muka ketika bertemu. Banyangkan saja ketika anda memiliki teman sejati yang sering marah, apa yang akan anda rasakan? Tentu saja anda akan merasa tidak nyaman, bukan?

Dari beberapa penjelasan di atas, sobat Cahayaislam bisa belajar mengenai beberapa ciri teman sejati yang telah diatur secara rinci menurut agama Islam. Dengan adanya pedoman tersebut, kita tentu akan bisa bergaul dengan lebih baik dan pergaulan kita akan senantiasa baik dan tidak terpengaruh oleh lingkungan.

[1] HR. Tirmidzi 2318

[2] QS. Az-Zukhruf: 67

[3] HR. Ahmad 18621

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!