Cerita Inspirasi Tentang Kejujuran: Pembeli Tanah yang Menemukan Sebongkah Emas

0
1108

Cerita Inspirasi Tentang Kejujuran – Jujur merupakan hal yang tergolong langka pada zaman sekarang. Melihat banyak sekali berita-berita korupsi dan pencurian santer terdengar diberbagai media saat ini, menunjukkan realita yang tidak hanya mengatakan moral sosial yang mulai menurun drastis serta semakin hilangnya kejujuran dan mahalnya kepercayaan. Sebenarnya bersikap jujur sendiri memiliki faidah dan manfaat yang menakjubkan (seperti yang telah kami ulas disini). Namun apa daya, hal ini benar-benar sukar untuk dilaksanakan. Untuk itu, tim Cahayaislam akan membawakan satu kisah  tentang kejujuran yang dinukil dari Al Hadits riwayat Ibnu Majjah yang bernomor hadits 2511. Simak yuk!

Pembeli tanah yang menemukan sebongkah emas dari tanah yang dibelinya

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ ثَابِتٍ الْجَحْدَرِيُّ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِسْحَاقَ الْحَضْرَمِيُّ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَيَّانَ، سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ اشْتَرَى عَقَارًا فَوَجَدَ فِيهَا جَرَّةً مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ اشْتَرَيْتُ مِنْكَ الأَرْضَ وَلَمْ أَشْتَرِ مِنْكَ الذَّهَبَ ‏.‏ فَقَالَ الرَّجُلُ إِنَّمَا بِعْتُكَ الأَرْضَ بِمَا فِيهَا ‏.‏ فَتَحَاكَمَا إِلَى رَجُلٍ فَقَالَ أَلَكُمَا وَلَدٌ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِي غُلاَمٌ ‏.‏ وَقَالَ الآخَرُ لِي جَارِيَةٌ ‏.‏ قَالَ فَأَنْكِحَا الْغُلاَمَ الْجَارِيَةَ وَلْيُنْفِقَا عَلَى أَنْفُسِهِمَا مِنْهُ وَلْيَتَصَدَّقَا ‏

Cerita Inspirasi Tentang Kejujuran ini menceritakan tentang seorang rojul dari kaum-kaum terdahulu yang melakukan transaksi dengan saudaranya yang seiman. Rojul tersebut membeli sebuah kebun untuk digunakan bercocok tanam. Setelah transaksi selesai dan tanah sudah sah menjadi milik rojul tadi, mulailah rojul tersebut mengolah tanah yang dibelinya tersebut untuk bercocok tanam. Namun hal yang mengejutkan terjadi.

Ketika sedang mengolah tanah kebun tersebut, rojul tadi terhenti karena ada satu benda keras yang menahan peralatan rojul tersebut. Kemudian menggalilah rojul tersebut untuk mengetahui sebenarnya benda keras apa sih yang membuat peralatan mengolah tanahnya terjepit. Setelah selesai menggali, betapa terkejutnya si rojul tersebut karena dirinya menemukan satu wadah yang terbuat dari emas.

Kerena sifat rojul tadi yang jujur, dia mendatangi saudara seimannya yang telah menjual tanah tersebut kepadanya sembari berkata “wahai saudaraku, sesungguhnya aku telah membeli sebidang tanah kebun darimu, dan aku tidak membeli sebuah wadah emas kepadamu” seraya mengeluarkan wadah emas tersebut dan menunjukkannya kepada saudara seimannya itu.

Saudara seiman penjual tanah tersebut ternyata juga memiliki sifat yang baik dan tidak serakah, dirinya berkata kepada rojul yang membeli tanahnya tersebut “wahai rojul, Niscaya aku menjual tanah dan segala apa-apa yang berada didalamnya” jawabnya sambil menolak wadah emas yang hendak diberikan rojul itu kepadanya. Karena masing-masing yakin dengan keputusannya dan saling bersikeras sama-sama tidak mengakui emas tersebut, maka mereka kemudian mendatangi seorang ahli hukum.

Bongkahan emas yang mempererat tali persaudaraan

Setelah mereka berdua (rojul pembeli tanah dan saudara seimannya yang menjual tanah kepadanya) mendatangi ahli hukum yang adil, kemudian bertanyalah ahli hukum tersebut kepada mereka berdua: apakah mereka memiliki anak? Rojul mengatakan bahwa dirinya memiliki anak laki-laki disisinya, dan saudara seiman yang menjual tanah mengatakan dirinya memiliki seorang anak perempuan. Maka juru hukum tersebut kemudian memutuskan kepada mereka agar menikahkan anak-anak mereka dan membiayai pernikahan mereka dengan wadah emas tersebut. Bongkahan emas tersebut menjadi sarana mempererat tali persaudaraan pada akhirnya.

Apa yang bisa dipetik dari cerita tersebut?

Dalam Cerita Inspirasi Tentang Kejujuran ini Kita diajari untuk meniru tauladan dari rojul pembeli tanah untuk bersikap jujur dan tidak mengklaim barang yang bukan miliknya. Di sisi lain kita juga diajari untuk bersikap perwira, dan tidak mudah mengambil yang bukan merupakan hak kita. Sifat-sifat jujur seperti itulah yang pada akhirnya membuahkan kebaikan antara pelaku-pelakunya. Semoga kita bisa terus berusaha untuk membiasakan hidup jujur. Amiin

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!