Berdedikasi Menjadi Generasi Asing Menurut Islam

0
240

Zaman dewasa ini berkembang dengan sangat cepat dan melahirkan banyak perubahan. Teknologi yang ada memudahkan seseorang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain atau berkomunikasi dengan orang lain lintas negara. Perkembangan yang terjadi tentu merupakan hal yang memberikan dampak dalam kehidupan manusia, terutama untuk umat Islam. Islam adalah agama yang tidak membatasi diri dengan perkembangan teknologi yang terjadi di dunia. Namun, Islam senantiasa mengajarkan pada umatnya untuk bersikap sewajarnya dan tidak berlebihan. Dalam hal ini, kita akan membahas Berdedikasi Menjadi Generasi Asing Menurut Islam. Pembahasan ini dirasa cukup penting karena dewasa ini timbul fenomena yang cukup mengkhawatirkan seperti kelakuan anak-anak yang bergeser cukup jauh dan mengikuti perkembangan zaman dengan serampangan.

Berdedikasi Menjadi Generasi Asing Menurut Islam

Dunia hanya sementara

Salah satu dakwah yang ditekankan dalam Islam adalah cara pandang terhadap dunia. Kita memang harus berusaha untuk menjadi seseorang yang sukses di dunia dan mempelajari segala hal demi kebaikan dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Namun, bagaimana cara Islam memandang dunia dan seisinya?

Perlu diketahui bahwa Islam menganggap dunia adalah tempat persinggahan yang sementara dan tidak abadi. Yang menjadi tempat abadi kelak adalah akhirat. Dunia hanya tempat untuk mengumpulkan bekal yang banyak demi mendapatkan kemuliaan di akhirat kelak. Ini adalah doktrin dan cara pandang Islam mengenai dunia.

Dengan cara pandang tersebut, maka Islam menganjurkan umatnya untuk tidak berlebihan dalam mengurus perkara dunia demi menjadi generasi terbaik menurut Islam. Dalam konsep ini, kita mengenal adanya perintah untuk zuhud.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبُو المُنْذِرِ الطُّفَاوِيُّ عَنْ سُلَيْمَانَ الْأَعْمَشِ قَالَ حَدَّثَنِي مُجَاهِدٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Abdullah] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdurrahman Abu Al Mundzir At Thufawi] dari [Sulaiman Al A’masy] dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Mujahid] dari [Abdullah bin Umar] radliallahu ‘anhuma dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memegang pundakku dan bersabda: ‘Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara.” Ibnu Umar juga berkata; ‘Bila kamu berada di sore hari, maka janganlah kamu menunggu datangnya waktu pagi, dan bila kamu berada di pagi hari, maka janganlah menunggu waktu sore, pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.’ HR Bukhari 5937 (shahih)

Dari paparan di atas, kita bisa melihat bagaimana Islam sangat menghargai waktu dan memanfaatkannya dengan sangat baik. Hal inilah yang menjadi bagian penting dari paparan mengenai generasi asing menurut Islam.

Apa yang dimaksud dengan asing?

Dalam hadist diatas dijelaskan juga tentang menjadi asing, Rasulullah SAW bersabda, “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” HR Bukhari 5937 (shahih). Dari hadis tersebut, kita bisa melihat adanya perintah nabi untuk menjadikan diri sebagai generasi asing menurut Islam. Lantas, apa maksud dari generasi asing dalam hadis tersebut?

Generasi asing yang dimaksud adalah suatu generasi yang tidak terikat oleh kondisi zaman. Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa dewasa ini perkembangan zaman begitu hebatnya sehingga kita tidak kuasa untuk menolaknya. Memang, kemajuan zaman berimbas pada banyaknya kemudahan yang didapatkan namun di sisi lain akan menyebabkan ketergantungan yang hakiki, seperti keharusan mempercantik diri karena tuntutan tradisi masyarakat, keharusan menonton film di bioskop untuk menjadi lebih gaul, dan lainnya. Generasi asing tentu sebisa mungkin tidak akan mengikuti arus seperti ini.

Apa yang dilihat oleh generasi asing menurut Islam adalah esensi dari apa yang akan dan telah ia lakukan. Sebelumnya, kita sudah mengetahui bahwa dasar dari perbuatan adalah akhirat dengan menempatkan dunia adalah sebagai tempat persinggahan sementara. Dalam hal ini, dengan dasar akhirat, maka orientasi apa yang dilakukan adalah akhirat pula. Jika perbuatan tersebut baik sesuai hukum akhirat, maka ia akan melakukannya dan jika hal tersebut buruk, maka ia tidak akan melakukannya meskipun ia harus ‘menolak’ kondisi zaman yang ada.

Adanya generasi asing menurut Islam harus dipandang sebagai sebuah kemewahan tersendiri. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW terkait generasi menurut Islam bahwa di akhir zaman akan muncul generasi asing yang memegang agama Islam seperti bara api.

Demikianlah, penting bagi kita untuk mempelajari dan berusaha menjadi generasi asing menurut Islam yang kelak akan mendapatkan balasan di akhirat.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!