Bagaimana Pandangan Islam tentang Syair dan Puisi?

0
1968

Beberapa waktu yang lalu salah satu tim cahayaislam mengikuti acara kumpul para pujangga disalah satu cafe besar di Yogyakarta. Niyatnya sih untuk saling bersilaturahmi antar sesama teman, karena kebetulan memang ada beberapa teman tim cahayaislam yang juga merupakan anggota aktif dalam komunitas pujangga itu. Kebetulan tema utama yang mendasari acara kumpul pujangga tersebut berjudul “Berteriak kepada dunia”.

Tema kegiatan itu diikuti oleh para anggota dengan sangat antusias. Ketika tim cahayaislam bertanya tentang apa sebenarnya maksud tema acara berteriak kepada dunia tersebut kepada ketua penyelenggara aktifitas tersebut yang bernama Dani. Dia menjelaskan bahwa pada kesempatan kali dia ingin mengumpulkan pemikiran-pemikiran atas tujuan hidup dan eksistensi manusia di dunia ini, lewat karya sastra baik berupa puisi, lagu maupun tulisan-tulisan lain.

Dani berkata bahwa paling tidak manusia pernah barang sekali bertanya kepada dirinya sendiri tentang sebenarnya apa tujuan dia dilahirkan dan hidup di dunia ini. Acara perkumpulan itu cukup menarik dan sedikit tegang. Karena beberapa penyair ada yang membacakan karyanya yang cukup kontroversial (paling tidak menurut kami) karena dalam bait-bait puisinya yang sarat makna akan keraguan atas peran Tuhan dan takdir.

Setelah tim Cahayaislam mengikuti acara tersebut, kami kemudian sempat berpikir tentang bagaimana sih kira-kira pandangan islam tentang syair dan puisi itu sendiri? – Kami kemudian mencari beberapa penjelasan dari pada alim ulama tentang hal itu. Simak deh:

Hadits Rasulullah tentang Syair

Secara mengejutkan ternyata ada beberapa hadits rasulullah yang menjelaskan tentang syair. Salah satunya yang diriwayatkan Sunan Ibnu Majjah dalam hadits nomor 3759:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، حَدَّثَنَا حَفْصٌ، وَأَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ‏ “‏ لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ الرَّجُلِ قَيْحًا حَتَّى يَرِيَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا ‏”‏ ‏.‏ إِلاَّ أَنَّ حَفْصًا لَمْ يَقُلْ يَرِيَهُ

Rasulullah bersabda bahwasanya jika seseorang memenuhi perutnya dengan luapan nanah hingga menghancurkan (mematikan) dirinya, maka itu lebih baik daripada memenuhi pikirannya dengan syair.

Sungguh sebuah perumpamaan yang sangat ekstrim dari Rasulullah. Lalu berarti kita sebagai orang islam diharamkan atau tidak diperbolehkan berkarya atau menciptakan syair dong? – Jawabannya adalah boleh saja. Beberapa alim ulama yang telah tim Cahayaislam tanyai perihal hadits ini menjelaskan lebih detail kajian haditsnya melalui Ashabul wurud (sebab munculnya hadits itu).

بينا نحن نسير مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بالعرج إذ عرض شاعر ينشد فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم

خذوا الشيطان , أو أمسكوا الشيطان , لأن يمتلئ جوف رجل قيحا خير له من أن يمتلئ شعرا

Hadits Rasulullah ini muncul karena suatu ketika saat Rasulullah berjalan bersama sahabatnya di Al A’raj. Secara tiba-tiba datang seorang pujangga yang membacakan syairnya kepada Beliau. Salah satu stanza dalam syairnya ada kalimat “Peganglah shaitan itu, dan peganglah” hingga kemudian muncullah hadits ini.

Pendapat ulama besar akan hadits tersebut

Memang terjadi beberapa jejak pendapat diantara para alim ulama islam mengenai hadits ini. Ibnu Baththal mengatakan bahwasanya sebagian dari ulama memiliki perspektif bahwa syair larangan yang dimaksudkan Rasulullah dalam hadits diatas merupakan syair yang mengandung hujatan pada Allah maupun RasulNya.

Sejalan dengan pemikiran itu An-Nawawi dan Al Mubarakfury juga berpendapat sama bahwa syair itu diperbolehkan selama tidak mengandung hal-hal keji dan melenceng dari ajaran islam. Terlebih lagi menurut mereka definisi kongkret dari syair yang dilarang islam dan syair yang tercela adalah syair yang mana membuat pembuatnya lebih disibukkan olehnya daripada tersibukkan dengan kajian Al Quran dan Sunnah Rasul.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!