Anda Bermimpi Buruk? Jangan Diceritakan ke Orang Lain!

0
575

Apa itu mimpi? Mimpi yang kami maksud disini adalah mimpi yang muncul ketika kita terlelap tidur ya, bukan mimpi yang sejenis seperti keinginan atau ambisi akan sesuatu. Nah, mimpi sendiri memang disebut-sebut banyak orang sebagai bunga tidur (ketika itu adalah mimpi indah). Namun bisa juga menjadi sebuah hal yang menyeramkan (ketika itu adalah mimpi buruk). Diluar sana banyak orang yang menganggap mimpi sebagai sebuah pertanda kejadian yang akan terjadi pada realitas.

Dalam dunia psikologi dan neurobiologi. Mimpi dipercaya sebagai bentuk imaji dari keinginan terpendam (unconscious desire) yang kemudian tertuang dalam bentuk gambaran saat kesadaran memudar. Dalam penelitian neurobiologi populer diterangkan bahwa mimpi merupakan salah satu aktifitas tak sadar yang ditimbulkan oleh otak.

Mimpi sendiri memiliki penjelasan dalam berbagai kajian agama. Sedangkan dalam islam, mimpi itu dijelaskan oleh Rasulullah memiliki 3 tipe. (1) kabar gembira yang diberikan oleh Allah, (2) Keburukan dari syetan untuk menakuti manusia, dan (3) pemikiran atau kekhawatiran dalam pikiran seseorang (ibnu Majjah 3906).

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا هَوْذَةُ بْنُ خَلِيفَةَ، حَدَّثَنَا عَوْفٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ قَالَ “‏ الرُّؤْيَا ثَلاَثٌ فَبُشْرَى مِنَ اللَّهِ وَحَدِيثُ النَّفْسِ وَتَخْوِيفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا تُعْجِبُهُ فَلْيَقُصَّهَا إِنْ شَاءَ وَإِنْ رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلاَ يَقُصَّهُ عَلَى أَحَدٍ وَلْيَقُمْ يُصَلِّي

Tak berhenti sampai disitu saja. Rasulullah memberikan satu adab ketika kita mendapatkan mimpi buruk saat tidur. Kami akan jelaskan dibawah:

Larangan menceritakan mimpi buruk kepada orang lain

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ أَتَى النَّبِيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ رَجُلٌ وَهْوَ يَخْطُبُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُ الْبَارِحَةَ فِيمَا يَرَى النَّائِمُ كَأَنَّ عُنُقِي ضُرِبَتْ وَسَقَطَ رَأْسِي فَاتَّبَعْتُهُ فَأَخَذْتُهُ فَأَعَدْتُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ‏ “‏ إِذَا لَعِبَ الشَّيْطَانُ بِأَحَدِكُمْ فِي مَنَامِهِ فَلاَ يُحَدِّثَنَّ بِهِ النَّاسَ

Dalam hadits riwayat Ibnu Majjah 3912 diatas dikisahkan bahwa suatu hari ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah dengan menceritakan mimpi buruknya. Mimpi buruknya adalah melihat dirinya terhempas hingga putus dan jatuh, lalu kemudian dia mengejar kepalanya yang jatuh menggelinding untuk kemudian memasangnya kembali. Rasulullah kemudian bersabada: jika Syetan mempermainkanmu dalam mimpi yang diciptakannya, maka hendaklah jangan menceritakannya kepada orang lain.

Dalam hadits Ibnu Majjah pada paragraf lebih atas bahkan Rasulullah memerintahkan ketika Syetan mengganggu dengan mimpi buruk, maka hendaklah orang tersebut segera berwudhu dan melaksanakan sholat.

Tidak bolehnya menceritakan mimpi buruk tersebut oleh para alim ulama di interpretasikan sebagai larangan baik, karena di khawatirkan malaikat akan mengamini cerita buruk tersebut sehingga kemalangan akan menimpa orang tersebut. Alim ulama lain juga mengemukakan pendapat bahwa larangan menceritakan mimpi buruk itu merupakan bentuk teguhnya hati pada gangguan syetan yang terkutuk. Semoga bermanfaat ya!

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!