Aisyah Seorang Wanita Muslimah Sebagai Panutan

0
2050
Aisyah Seorang Wanita Muslimah Sebagai Panutan

Wanita Muslimah – Sobat Cahaya islam tentunya sudah tahu siapa itu Aisyah bukan? Ya, Aisyah merupakan salah satu istri Nabi Muhammad SAW yang memiliki tempat spesial di hati Rasulullah. Aisyah RA merupakan anak dari Abu Bakar Ash-Shiddiq yang juga salah satu sahabat Rasulullah, ketika dipersunting Rasulullah saat itu Aisyah berumur 9 tahun. Berselang tiga tahun setelah meninggalnya Khadijah, Aisyah merupakan salah seorang yang juga banyak meriwayatkan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua dengan hadits sebanyak 2210. Selain itu Aisyah memiliki julukan Humaira, untuk itu berikut akan disajikan kajian islam mengenai fakta-fakta dari Aisyah seorang wanita muslimah sebagai panutan.

Aisyah Seorang Wanita Muslimah Sebagai Panutan

Aisyah merupakan wanita muslimah memiliki paras cantik berkulit putih dan juga cerdas, Aisyah mengemban amanah risalah untuk menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi Rasulullah. Sehingga pada suatu hari Jibril memperlihatkan gambar Aisyah pada secarik kain sutra hijau kepada Rasulullah SAW dan mengatakan bahwa dia adalah calon istri Rasulullah SAW di dunia dan akhirat, seperti hadits berikut :

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ الْمَكِّيِّ، عَنِ ابْنِ أَبِي حُسَيْنٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ جِبْرِيلَ، جَاءَ بِصُورَتِهَا فِي خِرْقَةِ حَرِيرٍ خَضْرَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ‏ “‏ إِنَّ هَذِهِ زَوْجَتُكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ ‏.‏ وَقَدْ رَوَى عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ بِهَذَا الإِسْنَادِ مُرْسَلاً وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ عَائِشَةَ وَقَدْ رَوَى أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم شَيْئًا مِنْ هَذَا

Abd al-Razzaq memberi tahu kami bahwa Abdullah ibn Amr ibn al-Malqa al-Makki, dari Ibn Abi Hussain, dari Ibn Abi Malikah, dari ‘Aa’ishah, bahwa Jibril mendatangi Nabi (ﷺ) dengan gambarnya di atas selembar kain sutra hijau, dan dia berkata: “Ini istrimu di dunia, dan di akhirat.” Hadits ini adalah hadits shahih yang tidak kita ketahui kecuali dari hadits ‘Abd-Allaah bin’ Amr ibn al-‘Almah. Hadits ini meriwayatkan bahwa ‘Abd-Allaah ibn’ Amr ibn al-‘Almah berkata dalam rantai penularan ini, dan dia tidak menyebutkan apapun tentang ‘Aa’ishah. Abu Ousama meriwayatkan bahwa Hisham bin’ Urwah dari ayahnya mengatakan bahwa ‘Aa’ishah mengatakan bahwa Nabi SAW [1]

Kemudian datanglah hari itu Aisyah dipersunting oleh Rasulullah SAW dengan mahar sebanyak 500 dirham, rumah tangga tersebut berlangsung selama delapan tahun lima bulan hingga Rasulullah SAW meninggal dunia di pangkuan Aisyah.

Fakta-fakta dari seorang Aisyah wanita muslimah panutan

Aisyah dinikahi oleh Rasulullah saat masih gadis

Aisyah adalah satu-satunya istri nabi yang dinikahi ketika masih gadis, berbeda dengan istri-istri yang lain karena mereka dinikahi ketika janda.

Aisyah adalah wanita yang dibela kesuciannya

Suatu waktu Aisyah difitnah dengan tuduhan zina oleh orang-orang yang ingin menjatuhkan martabat Rasulullah SAW, padahal Aisyah merupakan wanita muslimah yang senantiasa menjaga kesuciannya. Untuk itu kemudian Allah menurunkan 16 ayat secara berurutan untuk menjawab tuduhan-tuduhan tidak berdasar tersebut. Yang mana ayat-ayat tersebut mempersaksikan kesucian Aisyah dan menjanjikannya dengan ampunan dan rezeki yang baik. Seperti yang tertera dalam Hadist Bukhari nomor 4141.

Aisyah merupakan orang yang paling dicintai Rasulullah SAW dari kalangan wanita

Seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari yaitu :

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُخْتَارِ، قَالَ خَالِدٌ الْحَذَّاءُ حَدَّثَنَا عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، قَالَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ، فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَىُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ ‏”‏ عَائِشَةُ ‏”‏‏.‏ فَقُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ فَقَالَ ‏”‏ أَبُوهَا ‏”‏‏.‏ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ‏”‏ ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ‏”‏‏.‏ فَعَدَّ رِجَالاً‏.‏

Dikisahkan oleh Amr bin Al-As: Nabi (ﷺ) mewariskan saya untuk membaca Tentara Dhat-as-Salasil. Saya mendatanginya dan berkata, “Siapakah orang yang paling Anda cintai?” Dia berkata, “‘Aisyah.’ Saya bertanya, “Di antara orang-orang itu?” Dia berkata, “Ayahnya.” Saya berkata, “Lalu siapa?” Dia berkata, “Lalu Umar bin Al-Khattab.” Dia kemudian menamai pria lain. [2]

Aisyah adalah wanita paling alim daripada wanita lainnya

Aisyah merupakan wanita muslimah yang paling alim karena Aisyah adalah satu-satunya wanita di zamannya yang memiliki kelebihan dalam tiga bidang ilmu yaitu ilmu fiqih, ilmu kesehatan dan ilmu syair. Selain itu pendapat Aisyah merupakan pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum.

Rasulullah memilih tinggal di rumah Aisyah ketika sakit

Aisyah dipilih oleh Rasulullah untuk merawatnya ketika beliau sedang sakit hingga pada akhir hayatnya Rasulullah meninggal dalam dekapan Aisyah.

Aisyah merupakan wanita shalihah yang dapat kita teladani perilakunya diantaranya adalah untuk menjadi istri yang baik dan memperlakukan suaminya dengan kelembutan, teduh ketika dipandang dan juga memberikan ketenangan. Karena memang sejatinya surga wanita muslimah terletak pada suaminya, untuk itu sebagai istri harus bersikap baik kepada suami karena suami adalah ladang pahala baginya.

Selain itu hendaklah para wanita beriman untuk menjaga kesuciannya karena kecantikan yang dimiliki merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dan diberikan kepada yang berhak atasnya. Yang ketiga adalah senantiasa belajar untuk menjadi wanita muslimah seutuhnya karena menjadi istri memiliki tanggung jawab besar yaitu mendidik anak-anaknya kelak. Semoga informasi kajian islam ini dapat bermanfaat dan menjadi cambuk bagi kita agar senantiasa bermuhasabah diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


[1] H.R. At-Tirmidzi (Shahih) nomor 3880

[2] H.R. Bukhari (Shahih)nomor 3662

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!