4 Barometer Beramar Ma’ruf (Menyebarkan Kebaikan) dalam Surat An Nahl 125

0
568

Menjalani dengan ikhlas kehidupan kita sebagai orang islam memang bukan sebuah hal yang bisa dijadikan bahan lelucon. Karena bila kita mengkaji lebih dalam tentang islam dalam ranah Al quran dan Al Hadits, maka kita akan banyak menemukan bahwa kita sebagai orang islam banyak memiliki kewajiban yang harus dilakukan (terlepas dari kewajiban ibadah wajib yang menjadi 5 pilar utama orang islam). Salah satu kewajiban yang kita harus lakukan adalah kewajiban menyebarkan kebaikan kepada orang lain.

Tentu, menyebarkan kebaikan itu luas maknanya dan setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda akan hal tersebut. Namun pada kesempatan kali ini, tim Cahayaislam tidak akan mengulas secara luas makna menyebarkan kebajikan tersebut. Tetapi kita akan mengulasnya lebih terarah kepada menyebarkan islam dan melaksanakan amar ma’ruf kepada banyak orang untuk lebih dalam masuk pada keislaman yang hakiki.

Perintah beramar ma’ruf dalam surat An Nahl ayat 125

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dalam penggalan ayat Al Quran diatas secara gamblang kita diperintahkan oleh Allah untuk menyerukan kepada manusia agar menuju kejalan Allah, yakni islam. Tentunya islam yang mutlak berdasarkan Al Quran dan Al hadits sebagai pedoman utamanya. Dalam detail ayat diatas ada beberapa pegangan yang bisa kita jadikan barometer dalam berdakwah.

Paling tidak ada sekitar 4 hal yang bisa menjadi pegangan. (1) Berorientasi pada ridho Allah, (2) Dakwah yang terlaksana melalui hikmah, (3) mauida Hasanah (pada pelajaran yang baik sekaligus contoh yang baik, atau bisa diartikan pula secara lemah lembut) (4) Diskusi dengan santun dan baik. Kami akan coba jabarkan satu persatu.

Berdakwah dengan orientasi ridho Allah

Poin pertama yang tertera dalam surat An Nahl 125 tersebut yang paling utama dalam beramar ma’ruf adalah dengan murni mengajak ila sabili robbika (إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ) tanpa ada embel-embel apapun. Jadi beramar ma’ruf yang baik adalah dengan menata niyat terlebih dahulu. Jangan sampai kita berdakwah dengan berorientasi pada materi. Atau bahkan berdakwah hanya untuk mendapatkan uang. Itu merupakan kesalahan yang sangat besar.

Berdakwah dan pelaksanaan menuju hikmah

Maksud dari berdakwah dan pelaksanaan menuju hikmah (بِالْحِكْمَةِ) ini adalah dakwah dan ajakan kita kepada jalan Allah haruslah berisi ilmu-ilmu syariat islam yang mampu memberikan faedah-faedah untuk penerimanya. Baik itu untuk kepentingan mereka secara khusus atau kebaikan banyak orang secara umum.

Lemah lembut dan tidak menakutkan dengan disertai kebaikan

Beberapa ulama menjelaskan tentang definisi Mauida hasanah sebagai metode dakwah yang lemah lembut dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Dakwah harus penuh dengan motivasi agar penerimanya merasa terinspirasi serta penerangan jalan menuju kebahagiaan. Materi dakwah haruslah bisa menyentuh bagian hati sanubari terdalam dari seseorang tanpa ada paksaan.

Mengatasi perdebatan dengan santun dan baik

Dalam ayat diatas ada satu frase (وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ) yang dengan jelas memerintahkan kita untuk bisa dengan kepala dingin mengatasi perdebatan. Pendakwah yang baik bukan mereka yang terbawa emosi dan merasa paling benar, namun dia adalah orang yang berpikiran terbuka dan bisa dengan santun dan baik dalam menyampaikan ilmunya.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!